Beranda | Artikel
Matang Bersama Al-Quran di Usia Empat Puluh
9 jam lalu

Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang telah menetapkan usia 40 tahun sebagai masa kematangan seorang hamba. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang dengan mencontohnya kita akan selalu berada dalam petunjuk Allah, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.

Izinkan kami mengajak saudara seiman yang saat ini sedang berada di fase usia antara 30 hingga 40 tahun untuk merenung sejak. Sadarkah Anda bahwa angka-angka umur yang terus merangkak naik ini adalah alarm yang sangat kencang, sebuah fase krusial di mana lembaran masa muda yang penuh dengan canda tawa dan kelalaian mulai ditutup, menuju sebuah gerbang kepastian yang bernama kematangan. Sungguh menyedihkan jika di sisa waktu emas ini, hati kita masih terpaut pada angan-angan dunia yang menipu, sementara interaksi kita dengan petunjuk hidup dari Sang Pencipta masih sekadarnya saja.

Ingatlah, usia 40 tahun ialah sebuah angka yang secara eksplisit diabadikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an al-Karim. Ketika seseorang menyentuh angka ini, akalnya telah mencapai puncak kesempurnaan, pemahamannya telah matang, dan watak aslinya biasanya sudah sulit untuk diubah lagi. Pertanyaannya, maukah kita menghadap Allah pada usia matang tersebut dalam keadaan menjadi orang asing bagi kitab suci-Nya? Ataukah kita ingin menjadi hamba pilihan yang diakui sebagai Ahlul Qur’an di hadapan-Nya?

Fase usia 30-an ini adalah waktu persiapan, sebuah jembatan emas untuk menata kembali hubungan kita dengan Allah Ta’ala (hablun minallah) sebelum semuanya terlambat. Menjadi Ahlul Qur’an di usia 40 membutuhkan ikhtiar yang benar-benar terencana dengan matang, hasil dari cucuran keringat, komitmen ibadah yang konsisten, dan kesungguhan tobat sejak hari ini. Melalui tulisan singkat ini, mari kita bedah bersama-sama bagaimana langkah konkret yang diajarkan oleh syariat agar kita mampu menduduki derajat mulia tersebut di usia 40 tahun kelak.

Menangkap isyarat kematangan usia

Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ

“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku..`” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat yang mulia ini mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa usia 40 tahun adalah batas garis pemisah antara masa muda yang penuh gelora dengan masa dewasa yang penuh dengan kebijaksanaan dan kemandirian spiritual. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pada usia 40 tahun ini, akal seseorang telah sempurna, pemahamannya telah lengkap, dan sifat penyabar atau pengendalian dirinya telah mencapai titik kulminasi. Kebiasaan apa saja yang sering dia lakukan pada umur ini, biasanya akan menjadi karakternya yang menetap hingga ajal menjemputnya kelak.

Oleh karenanya, para ulama terdahulu menganggap usia ini sebagai lampu kuning yang sangat terang untuk segera memutar haluan hidup. Imam Malik rahimahullah dalam At-Tadzkirah (hal. 149), pernah berkata,

أَدْرَكْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ بِبَلَدِنَا يَطْلُبُونَ الدُّنْيَا وَيُخَالِطُونَ النَّاسَ، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى أَحَدِهِمْ أَرْبَعُونَ سَنَةً اعْتَزَلُوا

Aku mendapati para ahli ilmu di negeri kami (Madinah) mencari dunia dan berbaur dengan manusia. Namun apabila salah seorang dari mereka telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka pun menarik diri (dari kesibukan duniawi).

Beliau menyatakan bahwa para ulama di negeri Madinah dahulunya juga bergaul dengan manusia dan mencari dunia. Namun, begitu usia mereka menyentuh angka 40 tahun, mereka segera menarik diri dari kesibukan duniawi yang sia-sia, melipat kasur-kasur mereka untuk menghidupkan malam, dan fokus sepenuhnya pada ibadah. Mereka sadar betul bahwa sisa umur yang ada sudah tidak bisa lagi dihambur-hamburkan untuk perkara yang tidak mendatangkan rida Allah.

Jika kita melihat sirah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun tidak diangkat menjadi Rasul melainkan tepat ketika usianya menginjak 40 tahun. Ini adalah dalil sahih dari sejarah bahwa tugas-tugas besar kenabian, termasuk mengemban amanah Al-Qur’an, menuntut kematangan jiwa yang prima. Maka sungguh mengherankan jika ada seorang muslim yang sudah mendekati atau berada di usia 40 tahun, namun waktunya masih habis untuk memikirkan perkara megah-megahan dunia, sementara ia tidak memiliki target yang jelas terhadap interaksinya dengan Al-Qur’an.

Interaksi dengan Al-Qur’an di usia kepala tiga

Bagi Anda yang saat ini berada di rentang usia 30 hingga 40 tahun, cara berinteraksi dengan Al-Qur’an harus segera dirombak total dari kebiasaan masa lalu. Di masa remaja dulu, mungkin kita membaca Al-Qur’an sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau sekadar mengejar target khatam tanpa sisa makna yang membekas di dada. Kini, di usia kepala tiga, interaksi tersebut harus dinaikkan levelnya menjadi interaksi yang berbasis pada tadabbur, perenungan mendalam, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai duduk di majelis ilmu untuk memahami apa yang Allah inginkan dari Anda melalui ayat-ayat-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)

Hadis ini tidak membatasi kata “belajar” hanya pada masalah membaguskan makhraj huruf dan tajwid bagi anak-anak kecil saja. Belajar di sini mencakup ruang lingkup yang luas, yaitu mempelajari huruf-hurufnya, memahami kandungan maknanya, serta berusaha keras untuk mengamalkan hukum-hukumnya. Di usia menjelang 40 tahun ini, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penasihat pribadi yang mengoreksi setiap langkah kaki, keputusan bisnis, hingga cara kita mendidik keluarga atau rumah tangga kita.

Ingatlah nasihat berharga dari tabi’in, Masruq rahimahullah dalam Kitab Az-Zuhd (الزهد) (hal. 283), beliau berkata,

إذا بلغ أحدكم أربعين سنة، فليأخذ حذره من الله

“Jika usiamu telah mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat.”

Mengapa kita harus berhati-hati? Karena Al-Qur’an yang kita baca setiap hari kelak akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi penuntut yang memberatkan kita di akhirat. Jangan sampai di usia matang ini, lisan kita lancar melantunkan ayat-ayat tentang larangan riba, gibah, atau durhaka, namun seluruh kemaksiatan tersebut justru masih melekat erat dalam keseharian kita.

Mempersiapkan diri menjadi ahlul Qur’an

Menjadi bagian dari ahlul Qur’an, memerlukan perencanaan yang matang dan realistis di sisa usia produktif ini. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membangun komitmen waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh urusan dunia, atau yang sering kita sebut sebagai wirdul Qur’an. Sediakan waktu khusus—bukan waktu sisa—misalnya 30 menit sebelum subuh atau setelah salat malam, untuk benar-benar berduaan dengan mushaf, membaca, dan menghafalnya dengan penuh ketenangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis sahih,

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah no. 215; Ahmad no. 12292; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, no. 7977; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani)

Untuk meraih predikat mulia sebagai ahlul Quran ini, pasanglah target hafalan yang realistis sebelum Anda mengetuk pintu usia 40 tahun. Jika Anda memulainya di usia 35 tahun, Anda masih memiliki waktu 5 tahun penuh untuk konsisten menghafal. Tidak perlu muluk-muluk langsung menargetkan 30 juz jika kemampuan kita terbatas, namun mulailah dari surah-surah yang sering dibaca atau juz-juz terakhir (Juz Amma dan Juz 29) dengan pemahaman tafsir yang kuat. Konsistensi (istiqamah) dalam mengulang hafalan jauh lebih dicintai oleh Allah daripada hafalan banyak yang langsung hilang dalam sekejap.

Selain menghafal secara mandiri, carilah seorang guru yang mutqin (ahli) untuk menyimak bacaan Anda secara berkala. Usia 30-an bukanlah alasan untuk merasa malu atau gengsi duduk mengeja ayat di hadapan seorang guru ngaji. Justru di sinilah letak ujian keikhlasan dan kematangan jiwa Anda, di mana Anda menurunkan ego keduniawian, jabatan, dan gelar akademik Anda demi tunduk mengoreksi bacaan kitab suci di hadapan pewaris ilmu Nabi.

Kematangan spiritual pada usia empat puluh

Ketika fajar usia 40 tahun itu akhirnya terbit dalam kehidupan Anda, pastikan diri Anda telah bertransformasi menjadi pribadi yang baru melalui madrasah Al-Qur’an. Seseorang yang matang bersama Al-Qur’an di usia ini akan memiliki ketenangan hati yang luar biasa dalam menghadapi berbagai badai ujian kehidupan dunia. Ia tidak lagi mudah mengeluh atas kehilangan materi, tidak lagi ambisius mengejar pujian manusia, dan lisannya senantiasa basah dengan untaian istigfar serta syukur.

Saudaraku, matang bersama Al-Qur’an berarti kita siap menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi setelah kita. Doa di usia 40 tahun dalam Al-Qur’an secara khusus menyebutkan permohonan kebaikan untuk anak cucu keturunan kita. Bagaimana mungkin kita bisa melahirkan generasi yang cinta Al-Qur’an, jika mereka tidak pernah melihat ayah atau ibunya membuka mushaf di rumah? Mari manfaatkan sisa waktu di usia 30-an ini dengan sebaik-baiknya, dekaplah Al-Qur’an erat-erat, agar kelak di usia 40 tahun kita dikumpulkan sebagai hamba yang matang imannya dan mulia kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam.

Baca juga: Keutamaan Membaca Al Qur’an

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslimah.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/115243-matang-bersama-al-quran-di-usia-empatpuluh.html